Senin, 21 Desember 2015

makalah etnosentris



MAKALAH
ETNOSENTRISME

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Konseling Lintas Budaya


Dosen Pengampu :
Diana Ariswanti, S.Pd. M.Psi

Disusun Oleh :
 BK / 6A
                                                   Iis Sri Sunarsih          (12.121.041)


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2015   






BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Keberadaan budaya yang sangat multikultural sehingga mewajibkan kepada setiap manusia untuk dapat menyesuaikan diri terhadap semua macam budaya yang ada.  Tetapi setiap manusia mempunyai hak untuk memandang atau berpendapat tentang suatu budaya tertentu menurut pandangan masing-masing. Memandang bahwa budaya adalah sesuatu yang penting maka pandangan terhadap budaya juga harus diperhatikan.
Seseorang memandang bahwa budaya yang dimiliki lebih unggul dibanding dengan budaya yang lain, hal ini dapat menimbulkan sesuatu yang positif dan negatif. Istilah untuk pandangan tersubut adalah Etnosentrisme. Menurut Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010) mengatakan bahwa “Etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya lain. Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain kacamata budaya kita atau posisi sosial kita”.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa antara etnosentris dapat memberikan identitas dan perasaan memiliki kepada anggotanya. Dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya yang dimiliki, sehingga etnosentrisme dianggap penting dalam memandang sebuah budaya. Tetapi etnosentrisme memiliki sisi negatif dimana ketika pandangan terhadap budaya yang dimiliki tersebut memaksakan budaya lain untuk mengikutinya. Melihat sisi positif dan negatif tersebut makadari itu diperlukan pemahaman yang cukup untuk dapat menerapkan etnosentrisme pada masing-masing individu dengan banar.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apa yang di maksud dengan Etnosentrisme ?
2.    Bagaimana karakteristik etnosentrisme?
3.    Bagaimana terjadinya etnisentrisme?
4.    Bagaimana keterkaitan Etnosentrisme mempengaruhi Identitas Budaya?
5.    Mengapa perlu menghindari etnosentrisme?

C.   Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud etnosentrisme.
2.    Untuk mengetahui karakteristik etnosentrisme.
3.    Untuk mengetahui terjadinya etnosentrisme.
4.    Untuk mengetahui keterkaitan etnosentrisme mempengaruhi identitas budaya.
5.    Untuk memahami alasan menghindari etnosentrisme.

















BAB II
PEMBAHASAN

1.  Pengertian Etnosentrisme
Adanya perbedaan budaya dari masing-masing daerah bahkan negara. Perbedaan cara pandang dan pendapat terhadap budaya yang dimiliki atau diakui dapat menunjukan perilaku etnosentrisme. Etnosentrisme terdapat dalam beberapa bahasa yaitu arti kata “Cina” dalam bahsa Cina sebetulnya bermakna “pusat dunia” dan suku Navajo, Kiowa dan Inuit menyebut diri mereka sendiri sebagai “The people”.
Contoh adanya perilaku etnosentrisme, misalnya saja suatu daerah mempunyai budaya untuk memakan daging kuda mentah. Hal ini mendapat cara pandang yang berbeda dari berbagai kalangan. Ada yang berpendapat bahwa memakan daging kuda mentah adalah hal yang biadab dan tidak normal. Tetapi mungkin saja ada yang memiliki pandangan bahwa memakan daging kuda mentah adalah biasa dan tidak sebanding dengan meletakkan orang tua di panti jompo. Dari contoh diatas maka Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010) menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya yang lain. Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.
Secara menyeluruh perilaku etnosentrisme merupakan sikap/ perilaku yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya lain atau kelompok lain. Selain itu etnosentrisme dapat didefinisikan sebagai kepercayaan yang sangat tinggi terhadap budayanya sendiri dan menganggap tidak nyaman dengan budaya lain sehingga lebih memandang rendah terhadap budaya lain.

2.  Karakteristik etnosentrisme
Karakteristik dalam etnosentrisme dikemukakan oleh beberapa tokoh, antara lain sebagai berikut:
 Menurut Larry, dkk (2010) terdapat tiga tingkatan dalam etnosentrisme, yaitu:
1)    Positif, merupakan kepercayaan bahwa paling tidak bagi Anda, budaya Anda lebih baik dari yang lain. Hal ini alami dan kepercayaan Anda berasal dari budaya asli Anda.
2)    Negatif, Anda mengevaluasi secara sebagian. Anda percaya bahwa budaya Anda merupakan pusat dari segalanya dan budaya lain harus dinilai dan diukur berdasarkan standar budaya Anda. Menurut Triandis, “kita melihat kebiasaan kelompok sebagai hal yang benar. Kita langsung berpikir bahwa peranan dan nilai-nilai dalam kelompok benar”.
3)    Sangat Negatif, bagi Anda tidak cukup hanya menganggap budaya Anda sebagai yang paling benar dan bermanfaat, Anda juga menganggap budaya Anda sebagai yang paling berkuasa dan Anda percaya bahwa nilai dan kepercayaan Anda harus diadopsi oleh orang lain.
Etnosentrisme semuanya terletak pada identitas sosial yang mendasar: kami. Sesaat sesudah orang-orang menciptakan kategori yang disebut “kami”, mereka mempersepsikan semua orang lain sebagai “bukan kami”. Solidaritas dalam kelompok ini dapat tercipta dalam waktu satu menit dalam laboratorium, sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Tajfel dan rekan-rekannya (1971) dalam sebuah eksperimen di sekolah khusus lelaki di Inggris. Tajfel menunjukkan kepada anak-anak lelaki ini berbagai potongan gambar, masing-masing memiliki sejumlah titik yang beraneka ragam dan meminta anak-anak ini untuk menebak beberapa jumlah semua titik dalam potongan gambar tersebut. Anak-anak ini dengan acak dikelompokkan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators” dan mereka kemudian diminta untuk mengerjakan tugas lainnya. Dalam tahap ini, mereka diberikan kesempatan menilai anak-anak lain yang diidentifikasikan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators”. Walaupun setiap anak bekerja sendiri dalam ruangnya masing-masing, setiap anak memberikan nilai yang lebih tinggi pada anak-anak yang dianggap mirip dengannya, entah itu seorang yang “overestimators” ataupun “underestimators”. Ketika anak-anak ini keluar dari ruangannya masing-masing dan ditanyai, “Termasuk yang manakah dirimu?” dan jawaban yang diberikan disebut dengan sorak gembira atau cemooh dari anak-anak lainnya.
Identitas sosial kita-mereka diperkuat ketika kedua kelompok berkompetisi satu dengan yang lainnya. Bertahun-tahun yang lalu. Muzafer Sherif dan rekan-rekannya menggunakan sebuah situasi alamiah, yaitu lokasi perkemahan pramuka yang dikenal sebagai Robbers Cave, untuk menunjukkan pengaruh kompetisi pada perilaku kasar dan konflik antar kelompok (Sherif, 1958, Sherif dkk 1961). Sherif menempatkan secara acak anak-anak usia 11 dan 12 tahun ke dalam dua kelompok, kelompok Elang dan kelompok Ular. Untuk membangun perasaan sebagai sebuah kelompok, serta membentuk identitas dalam kelompok dan semangat tim, setiap kelompok di minta bekerja sama dalam kegiatan seperti membuat jembatan dari tali-temali dan membangun sebuah papan untuk menyelam. Sherif kemudian menempatkan kelompok Elang dan Ular dalam sebuah kompetisi untuk mendapatkan hadiah. Selama permainan bola, baseball, dan tug-of-war yang sengit, anak-anak ini kemudian menciptakan atmosfer kompetisi yang segera menyelimuti lapangan permainan. Mereka mulai masuk ke daerah lawan dan mengacak-acak tempat penympanan mereka. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat kelompok ular dan kelompok Elang menjadi orang-orang yang agresif terhadap kelompok lawan, seperti halnya dua geng yang berkelahi untuk mendapatkan suatu wilayah, atau dua bangsa yang bertarung untuk memperoleh dominasi. Agresivitas dan perilaku kasar ini berlanjut ketika mereka hanya duduk dan menonton film bersama.
Kemudian Sherif memutuskan untuk menghilangkan pertikaian yang dia ciptakan dan membuat perdamaian antara kedua kelompok. Dia dan para rekannya membuat sejumlah rangkaian situasi di mana kedua kelompok perlu bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan-menggabungkan seluruh sumber daya untuk dapat menonton film yang ingin mereka lihat, sebagai contohnya, atau dengan menarik sebuah truk milik staf hingga ke bukit tempat perkemahan. Kebijakan untuk saling bergantung dalam mencapai tujuan bersama sangat sukses dalam mengurangi “etnosentrisme”, tingkat kompetisi, dan perilaku kasar mereka; masing-masing anak kemudian menjadi teman dengan anak-anak yang semula adalah “musuh mereka”. Saling tergantungan memiliki dampak seruupa pada orang dewasa dan kelompoknya. Alasannya tampaknya karena kerja sama menyebabkan seseorang berpikir bahwa mereka sendiri merupakan anggota dari suatu kelompok besar dan bukan lagi dua kelompok yang saling bertentangan, “kami” dan “mereka”.
Dari bacaan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik lain yang terdapat pada etnosentrisme (dalam wede carole, dkk. 2008) antara lain sebagai berikut:
1)    Etnosentris terletak pada identitas sosial yang mendasar. Hal ini mengarah pada kata “kami”, setelah mengenal kata tersebut, para etnosentris mempresepsikan semua orang lain “bukan kami”.
2)    Solidaritas dalam kelompok dapat tercipta lebih cepat, etnosentris menyukai orang lain yang hampir sama dengan dirinya dan budayanya.
3)    Menciptakan “kerja sama” bagi orang yang berpandangan etnosentris dapat merubah makna kata “kami” dan “mereka”.
4)     Budaya yang mengadopsi perilaku/ sikap etnosentrisme dapat menciptakan permusuhan dengan cepat antara dua kelompok yang berbeda yaitu melalui adanya perebutan dalam hal tertentu (identitas sosial menjadi lebbih kuat).

3.  Terjadinya etnisentrisme
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian. Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung melihat kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling baik, sebagai yang paling bermoral.”
Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang.

4.  Etnosentrisme mempengaruhi Identitas Budaya
Larry (dalam Diana, 2015: 36-37) mengatakan bahwa alasan lain mengapa etnosentris begitu mendarah danging adalah bahwa etnosentris memberikan identitas dan perasaan memiliki kepada anggotanya. Rusen menjelaskan, “keanggotaan dalam suatu kelompok, suatu penghargaan diri, membuat masyarakat bangga akan prestasi bangsanya”. Perilaku yang diartikan pendapat ini dalam etnosentrisme dituliskan oleh Scarborough: “orang-orang bangga akan budaya mereka merupakan sumber identitas; mereka memiliki kesulitan memahami mengapa orang lain tidak berperilaku seperti mereka, dan menganggap bahwa orang lain harus menjadi bagian dari mereka jika mereka dapat”.
Haviland dan rekan menegahkan, “untuk berfungsi secara efektif, kita mungkin mengharapkan masyarakat untuk memiliki rasa bangga terhadap etnisnya dan kesetiaan terhadap tradisi budaya yang unik, dari mana masyarakat mendapatkan dukungan secara psikologis dan ikatan sosial yang kuat dengan kelompoknya. Dalam masyarakat dimana identifikasi diri seseorang berasal dari kelompoknya, etnosentrisme penting dalam membangun rasa penghargaan terhadap diri sendiri”.
Larry (2010) mengatakan bahwa rasa etnosentris lebih kuat dalam konteks moral dan agama, dimana emosionalisme mungkin membayangi alasan dan penyebab permusuhan dunia pada tanggal 11 September 2001. Untuk menjelaskan hubungan etnosentrisme terhadap kesetiaan budaya maka Brislin mengamati, jika orang memandang kelompok mereka sebagai hal yang penting dalam kehidupan mereka dan memiliki perilaku yang pantas, mereka mungkin membantu kelompok mereka ketika masalah timbul. Ketika masa perang, mereka menggunakan rasa etnosentrisme untuk menyemangati tentara mereka dalam mengalahkan musuh.
Ada akibat serius jika Anda terlibat dalam etnosentrisme negatif ketika Anda berhasil dalam komunikasi antarbudaya. Salah satu akibat etnosentrisme adalah rasa gelisah. Alasannya sederhana dan dinyatakan dengan jelas oleh Gamble dan Gamble: “semakin etnosentris Anda, semakin gelisah Anda dalam berhubungan dengan budaya lain; ketika kita takut, kita jadi memiliki sedikit harapan positif dari suatu hubungan dan kurang mempercayai orang dari budaya lain”.

5.  Menghindari etnosentrisme
Untuk menghindari persepsi dan perilaku etnosentris bukanlah hal yang mudah, berikut beberapa saran untuk mengurangi akibat negatif dari sifat etnosentris:
1)      Cobalah menghindari dogmatisme.
Anda dapat memulainya dengan memikirkan pertanyaan berikut ini:
a.  Orang Yahudi menutup kepala mereka ketika berdoa, namun tidak demikian dengan orang Protestan. Apakah seseorang melakukan yang lebih benar dari yang lainnya?
b.  Umat katolik memiliki satu Tuhan, umat Budha tidak memiliki Tuhan, dan umat Hindu memiliki banyak Tuhan. Apakah kepercayaan yang satu lebih benar dari kepercayaan yang lainnya?
c.  Di beberapa bagian Iran dan Arab Saudi, perempuan menutup muka mereka dengan cadar, sedangkan perempuan di Amerika Serikat tidak. Apakah satu perilaku lebih benar dari yang lainnya?
d.  Di Cina, orang makan dengan sumpit, sedangkan di Amerika Serikat orang makan dengan peralatan makan dari metal atau plastik. Apakah suatu metode lebih benar dari yang lainnya?
    Pertanyaan seperti di atas tidak terhingga. Menurut Larry, dkk (2010) bahwa bukan pertanyaan-pertanyaan ini yang penting, namun sikap dogmatis orang dalam menjawabnya. Bahaya etnosentrisme lebih besar dalam bidang politik, moral, dan agama. Dalam konteks tersebut, mudah untuk membiarkan pandangan yang terbatas mengalahkan rasional. Waspada terhadap segala bentuk ketidaktoleransian. St. Thomas Aquinas mengatakan hal yang sama ratusan tahun yang lalu, “berhati-hatilah terhadap seseorang dengan satu buku”.

2)  Belajar untuk memiliki pandangan yang terbuka.
Triandis menjelaskan, “ketika kita membuat penilaian komparatif bahwa budaya kita lebih unggul dibandingkan yang lainnya, kita belajar untuk mengikuti penilaian ini dengan dua pertanyaan: “apakah hal ini benar? Apakah bukti objektifnya?”. Menurut Triandis, mengenal keberagaman budaya dengan mengetahui “kebenaran” budaya yang lain. Kurang pengetahuan merupakan penyebab utama etnosentrisme.




BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa Secara menyeluruh perilaku etnosentrisme merupakan sikap/ perilaku yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya lain atau kelompok lain. Selain itu etnosentrisme dapat didefinisikan sebagai kepercayaan yang sangat tinggi terhadap budayanya sendiri dan menganggap tidak nyaman dengan budaya lain sehingga lebih memandang rendah terhadap budaya lain.
Etnosentris memiliki beberapa karakteristik, tetapi biasanya kita lebih mudah mengenali sikap etnosentris pada orang lain daripada sikap etnosentris pada diri sendiri. Larry (2010) mengatakan bahwa rasa etnosentris lebih kuat dalam konteks moral dan agama, dimana emosionalisme lebih mendominasi.
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Untuk berfungsi secara efektif, kita mungkin mengharapkan masyarakat untuk memiliki rasa bangga terhadap etnisnya dan kesetiaan terhadap tradisi budaya yang unik, dari mana masyarakat mendapatkan dukungan secara psikologis dan ikatan sosial yang kuat dengan kelompoknya, oleh sebab itu sikap etnosentris dapat mempengaruhi suatu budaya.

B. SARAN
Sikap etnosentris memiliki dampak yang positif dan negatif. Setelah kita mengulas sedikit banyal tentang etnosentris maka kita harus dapat mengendalikan diri sendiri dalam menyikapi adanya etnosentris. Bahaya etnosentrisme lebih besar dalam bidang politik, moral, dan agama. Sehingga sikap etnosentris tersebut perlu kita hindari walaupun sikap etnosentris juga kita perlukan pada saat-saat tertentu.