MAKALAH
ETNOSENTRISME
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Konseling Lintas Budaya
Dosen Pengampu :
Diana Ariswanti, S.Pd. M.Psi

Disusun Oleh :
BK / 6A
Iis Sri Sunarsih (12.121.041)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Keberadaan budaya yang
sangat multikultural sehingga mewajibkan kepada setiap manusia untuk dapat
menyesuaikan diri terhadap semua macam budaya yang ada. Tetapi setiap manusia mempunyai hak untuk
memandang atau berpendapat tentang suatu budaya tertentu menurut pandangan
masing-masing. Memandang bahwa budaya adalah sesuatu yang penting maka
pandangan terhadap budaya juga harus diperhatikan.
Seseorang memandang bahwa
budaya yang dimiliki lebih unggul dibanding dengan budaya yang lain, hal ini
dapat menimbulkan sesuatu yang positif dan negatif. Istilah untuk pandangan
tersubut adalah Etnosentrisme. Menurut Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010)
mengatakan bahwa “Etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang
lebih unggul dibandingkan budaya lain. Pandangan bahwa budaya lain dinilai
berdasarkan standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat
budaya lain kacamata budaya kita atau posisi sosial kita”.
Dari pengertian tersebut
dapat dikatakan bahwa antara etnosentris dapat memberikan identitas dan
perasaan memiliki kepada anggotanya. Dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap
budaya yang dimiliki, sehingga etnosentrisme dianggap penting dalam memandang
sebuah budaya. Tetapi etnosentrisme memiliki sisi negatif dimana ketika
pandangan terhadap budaya yang dimiliki tersebut memaksakan budaya lain untuk
mengikutinya. Melihat sisi positif dan negatif tersebut makadari itu diperlukan
pemahaman yang cukup untuk dapat menerapkan etnosentrisme pada masing-masing
individu dengan banar.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang di maksud dengan Etnosentrisme ?
2.
Bagaimana karakteristik etnosentrisme?
3.
Bagaimana terjadinya etnisentrisme?
4.
Bagaimana keterkaitan Etnosentrisme
mempengaruhi Identitas Budaya?
5.
Mengapa perlu menghindari etnosentrisme?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
etnosentrisme.
2.
Untuk mengetahui karakteristik etnosentrisme.
3.
Untuk mengetahui terjadinya etnosentrisme.
4.
Untuk mengetahui keterkaitan etnosentrisme
mempengaruhi identitas budaya.
5.
Untuk memahami alasan menghindari
etnosentrisme.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Etnosentrisme
Adanya perbedaan
budaya dari masing-masing daerah bahkan negara. Perbedaan cara pandang dan
pendapat terhadap budaya yang dimiliki atau diakui dapat menunjukan perilaku
etnosentrisme. Etnosentrisme terdapat dalam beberapa bahasa yaitu arti kata
“Cina” dalam bahsa Cina sebetulnya bermakna “pusat dunia” dan suku Navajo,
Kiowa dan Inuit menyebut diri mereka sendiri sebagai “The people”.
Contoh adanya
perilaku etnosentrisme, misalnya saja suatu daerah mempunyai budaya untuk
memakan daging kuda mentah. Hal ini mendapat cara pandang yang berbeda dari
berbagai kalangan. Ada yang berpendapat bahwa memakan daging kuda mentah adalah
hal yang biadab dan tidak normal. Tetapi mungkin saja ada yang memiliki
pandangan bahwa memakan daging kuda mentah adalah biasa dan tidak sebanding
dengan meletakkan orang tua di panti jompo. Dari contoh diatas maka Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010) menjelaskan bahwa
etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul
dibandingkan budaya yang lain. Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan
standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain
melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.
Secara
menyeluruh perilaku etnosentrisme merupakan sikap/ perilaku yang menggunakan pandangan
dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya
lain atau kelompok lain. Selain itu etnosentrisme dapat didefinisikan sebagai
kepercayaan yang sangat tinggi terhadap budayanya sendiri dan menganggap tidak
nyaman dengan budaya lain sehingga lebih memandang rendah terhadap budaya lain.
2. Karakteristik etnosentrisme
Karakteristik dalam
etnosentrisme dikemukakan oleh beberapa tokoh, antara lain sebagai berikut:
Menurut Larry, dkk (2010) terdapat tiga
tingkatan dalam etnosentrisme, yaitu:
1) Positif, merupakan kepercayaan bahwa paling tidak bagi
Anda, budaya Anda lebih baik dari yang lain. Hal ini alami dan kepercayaan Anda
berasal dari budaya asli Anda.
2) Negatif, Anda mengevaluasi secara sebagian. Anda percaya
bahwa budaya Anda merupakan pusat dari segalanya dan budaya lain harus dinilai
dan diukur berdasarkan standar budaya Anda. Menurut Triandis, “kita melihat
kebiasaan kelompok sebagai hal yang benar. Kita langsung berpikir bahwa peranan
dan nilai-nilai dalam kelompok benar”.
3) Sangat Negatif, bagi Anda tidak cukup hanya menganggap
budaya Anda sebagai yang paling benar dan bermanfaat, Anda juga menganggap
budaya Anda sebagai yang paling berkuasa dan Anda percaya bahwa nilai dan
kepercayaan Anda harus diadopsi oleh orang lain.
Etnosentrisme semuanya terletak pada identitas sosial
yang mendasar: kami. Sesaat sesudah orang-orang menciptakan kategori yang
disebut “kami”, mereka mempersepsikan semua orang lain sebagai “bukan kami”.
Solidaritas dalam kelompok ini dapat tercipta dalam waktu satu menit dalam
laboratorium, sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Tajfel dan rekan-rekannya
(1971) dalam sebuah eksperimen di sekolah khusus lelaki di Inggris. Tajfel
menunjukkan kepada anak-anak lelaki ini berbagai potongan gambar, masing-masing
memiliki sejumlah titik yang beraneka ragam dan meminta anak-anak ini untuk
menebak beberapa jumlah semua titik dalam potongan gambar tersebut. Anak-anak
ini dengan acak dikelompokkan sebagai “overestimators”
ataupun “underestimators” dan mereka
kemudian diminta untuk mengerjakan tugas lainnya. Dalam tahap ini, mereka
diberikan kesempatan menilai anak-anak lain yang diidentifikasikan sebagai “overestimators” ataupun “underestimators”. Walaupun setiap anak
bekerja sendiri dalam ruangnya masing-masing, setiap anak memberikan nilai yang
lebih tinggi pada anak-anak yang dianggap mirip dengannya, entah itu seorang
yang “overestimators” ataupun “underestimators”. Ketika anak-anak ini
keluar dari ruangannya masing-masing dan ditanyai, “Termasuk yang manakah
dirimu?” dan jawaban yang diberikan disebut dengan sorak gembira atau cemooh
dari anak-anak lainnya.
Identitas sosial kita-mereka diperkuat ketika kedua
kelompok berkompetisi satu dengan yang lainnya. Bertahun-tahun yang lalu.
Muzafer Sherif dan rekan-rekannya menggunakan sebuah situasi alamiah, yaitu
lokasi perkemahan pramuka yang dikenal sebagai Robbers Cave, untuk menunjukkan
pengaruh kompetisi pada perilaku kasar dan konflik antar kelompok (Sherif,
1958, Sherif dkk 1961). Sherif menempatkan secara acak anak-anak usia 11 dan 12
tahun ke dalam dua kelompok, kelompok Elang dan kelompok Ular. Untuk membangun
perasaan sebagai sebuah kelompok, serta membentuk identitas dalam kelompok dan
semangat tim, setiap kelompok di minta bekerja sama dalam kegiatan seperti
membuat jembatan dari tali-temali dan membangun sebuah papan untuk menyelam.
Sherif kemudian menempatkan kelompok Elang dan Ular dalam sebuah kompetisi
untuk mendapatkan hadiah. Selama permainan bola, baseball, dan tug-of-war yang
sengit, anak-anak ini kemudian menciptakan atmosfer kompetisi yang segera
menyelimuti lapangan permainan. Mereka mulai masuk ke daerah lawan dan
mengacak-acak tempat penympanan mereka. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat
kelompok ular dan kelompok Elang menjadi orang-orang yang agresif terhadap
kelompok lawan, seperti halnya dua geng yang berkelahi untuk mendapatkan suatu
wilayah, atau dua bangsa yang bertarung untuk memperoleh dominasi. Agresivitas
dan perilaku kasar ini berlanjut ketika mereka hanya duduk dan menonton film
bersama.
Kemudian Sherif memutuskan untuk menghilangkan pertikaian
yang dia ciptakan dan membuat perdamaian antara kedua kelompok. Dia dan para
rekannya membuat sejumlah rangkaian situasi di mana kedua kelompok perlu
bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan-menggabungkan seluruh sumber daya
untuk dapat menonton film yang ingin mereka lihat, sebagai contohnya, atau
dengan menarik sebuah truk milik staf hingga ke bukit tempat perkemahan.
Kebijakan untuk saling bergantung dalam mencapai tujuan bersama sangat sukses
dalam mengurangi “etnosentrisme”, tingkat kompetisi, dan perilaku kasar mereka;
masing-masing anak kemudian menjadi teman dengan anak-anak yang semula adalah
“musuh mereka”. Saling tergantungan memiliki dampak seruupa pada orang dewasa
dan kelompoknya. Alasannya tampaknya karena kerja sama menyebabkan seseorang
berpikir bahwa mereka sendiri merupakan anggota dari suatu kelompok besar dan
bukan lagi dua kelompok yang saling bertentangan, “kami” dan “mereka”.
Dari bacaan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik
lain yang terdapat pada etnosentrisme (dalam wede carole, dkk. 2008) antara
lain sebagai berikut:
1) Etnosentris terletak pada identitas sosial yang mendasar.
Hal ini mengarah pada kata “kami”, setelah mengenal kata tersebut, para
etnosentris mempresepsikan semua orang lain “bukan kami”.
2) Solidaritas dalam kelompok dapat tercipta lebih cepat,
etnosentris menyukai orang lain yang hampir sama dengan dirinya dan budayanya.
3) Menciptakan “kerja sama” bagi orang yang berpandangan
etnosentris dapat merubah makna kata “kami” dan “mereka”.
4) Budaya yang
mengadopsi perilaku/ sikap etnosentrisme dapat menciptakan permusuhan dengan
cepat antara dua kelompok yang berbeda yaitu melalui adanya perebutan dalam hal
tertentu (identitas sosial menjadi lebbih kuat).
3. Terjadinya etnisentrisme
Etnosentrisme terjadi jika
masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan
kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya
menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme,
yaitu kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan
kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian.
Makin besar kesamaan kita dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin
besar ketidaksamaan, makin jauh mereka dari kita. Kita cenderung melihat
kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai yang paling baik,
sebagai yang paling bermoral.”
Etnosentrisme membuat kebudayaan kita
sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi
kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang
terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat
mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri
sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu
masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan
etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian
dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan
kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan
erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan etnosentrisme
berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The
Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang
etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang
fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai
kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri
disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang
yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses
belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu
melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan
kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis
yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan
sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan
etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan
dengan cerah. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut
mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan
penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik.
Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan
yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga
kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan
politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat
diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar
belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang.
4. Etnosentrisme mempengaruhi Identitas
Budaya
Larry (dalam Diana, 2015:
36-37) mengatakan bahwa alasan lain mengapa etnosentris begitu mendarah danging
adalah bahwa etnosentris memberikan identitas dan perasaan memiliki kepada
anggotanya. Rusen menjelaskan, “keanggotaan dalam suatu kelompok, suatu
penghargaan diri, membuat masyarakat bangga akan prestasi bangsanya”. Perilaku
yang diartikan pendapat ini dalam etnosentrisme dituliskan oleh Scarborough:
“orang-orang bangga akan budaya mereka merupakan sumber identitas; mereka
memiliki kesulitan memahami mengapa orang lain tidak berperilaku seperti
mereka, dan menganggap bahwa orang lain harus menjadi bagian dari mereka jika
mereka dapat”.
Haviland dan rekan
menegahkan, “untuk berfungsi secara efektif, kita mungkin mengharapkan
masyarakat untuk memiliki rasa bangga terhadap etnisnya dan kesetiaan terhadap
tradisi budaya yang unik, dari mana masyarakat mendapatkan dukungan secara
psikologis dan ikatan sosial yang kuat dengan kelompoknya. Dalam masyarakat
dimana identifikasi diri seseorang berasal dari kelompoknya, etnosentrisme
penting dalam membangun rasa penghargaan terhadap diri sendiri”.
Larry (2010) mengatakan
bahwa rasa etnosentris lebih kuat dalam konteks moral dan agama, dimana
emosionalisme mungkin membayangi alasan dan penyebab permusuhan dunia pada
tanggal 11 September 2001. Untuk menjelaskan hubungan etnosentrisme terhadap
kesetiaan budaya maka Brislin mengamati, jika orang memandang kelompok mereka
sebagai hal yang penting dalam kehidupan mereka dan memiliki perilaku yang
pantas, mereka mungkin membantu kelompok mereka ketika masalah timbul. Ketika
masa perang, mereka menggunakan rasa etnosentrisme untuk menyemangati tentara
mereka dalam mengalahkan musuh.
Ada akibat serius jika Anda
terlibat dalam etnosentrisme negatif ketika Anda berhasil dalam komunikasi antarbudaya.
Salah satu akibat etnosentrisme adalah rasa gelisah. Alasannya sederhana dan
dinyatakan dengan jelas oleh Gamble dan Gamble: “semakin etnosentris Anda,
semakin gelisah Anda dalam berhubungan dengan budaya lain; ketika kita takut,
kita jadi memiliki sedikit harapan positif dari suatu hubungan dan kurang
mempercayai orang dari budaya lain”.
5. Menghindari etnosentrisme
Untuk
menghindari persepsi dan perilaku etnosentris bukanlah hal yang mudah, berikut
beberapa saran untuk mengurangi akibat negatif dari sifat etnosentris:
1) Cobalah menghindari dogmatisme.
Anda
dapat memulainya dengan memikirkan pertanyaan berikut ini:
a. Orang Yahudi menutup kepala mereka ketika berdoa, namun
tidak demikian dengan orang Protestan. Apakah seseorang melakukan yang lebih benar
dari yang lainnya?
b. Umat katolik memiliki satu Tuhan, umat Budha tidak
memiliki Tuhan, dan umat Hindu memiliki banyak Tuhan. Apakah kepercayaan yang
satu lebih benar dari kepercayaan yang lainnya?
c. Di beberapa bagian Iran dan Arab Saudi, perempuan menutup
muka mereka dengan cadar, sedangkan perempuan di Amerika Serikat tidak. Apakah
satu perilaku lebih benar dari yang lainnya?
d. Di Cina, orang makan dengan sumpit, sedangkan di Amerika
Serikat orang makan dengan peralatan makan dari metal atau plastik. Apakah
suatu metode lebih benar dari yang lainnya?
Pertanyaan seperti di atas tidak terhingga.
Menurut Larry, dkk (2010) bahwa bukan pertanyaan-pertanyaan ini yang penting,
namun sikap dogmatis orang dalam menjawabnya. Bahaya etnosentrisme lebih besar
dalam bidang politik, moral, dan agama. Dalam konteks tersebut, mudah untuk
membiarkan pandangan yang terbatas mengalahkan rasional. Waspada terhadap
segala bentuk ketidaktoleransian. St. Thomas Aquinas mengatakan hal yang sama
ratusan tahun yang lalu, “berhati-hatilah terhadap seseorang dengan satu buku”.
2) Belajar untuk memiliki pandangan yang terbuka.
Triandis menjelaskan,
“ketika kita membuat penilaian komparatif bahwa budaya kita lebih unggul dibandingkan
yang lainnya, kita belajar untuk mengikuti penilaian ini dengan dua pertanyaan:
“apakah hal ini benar? Apakah bukti objektifnya?”. Menurut Triandis, mengenal
keberagaman budaya dengan mengetahui “kebenaran” budaya yang lain. Kurang
pengetahuan merupakan penyebab utama etnosentrisme.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan
makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa Secara menyeluruh perilaku
etnosentrisme merupakan sikap/ perilaku yang menggunakan pandangan dan cara
hidup dari sudut pandangnya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya lain atau
kelompok lain. Selain itu etnosentrisme dapat didefinisikan sebagai kepercayaan
yang sangat tinggi terhadap budayanya sendiri dan menganggap tidak nyaman
dengan budaya lain sehingga lebih memandang rendah terhadap budaya lain.
Etnosentris
memiliki beberapa karakteristik, tetapi biasanya kita lebih mudah mengenali
sikap etnosentris pada orang lain daripada sikap etnosentris pada diri sendiri.
Larry (2010) mengatakan bahwa rasa etnosentris lebih kuat dalam konteks moral
dan agama, dimana emosionalisme lebih mendominasi.
Etnosentrisme terjadi
jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur
dengan kebudayaan lain. Untuk berfungsi secara efektif, kita mungkin
mengharapkan masyarakat untuk memiliki rasa
bangga terhadap etnisnya dan kesetiaan terhadap tradisi budaya yang unik, dari
mana masyarakat mendapatkan dukungan secara psikologis dan ikatan sosial yang
kuat dengan kelompoknya, oleh sebab itu sikap etnosentris dapat mempengaruhi
suatu budaya.
B. SARAN
Sikap etnosentris
memiliki dampak yang positif dan negatif. Setelah kita mengulas sedikit banyal
tentang etnosentris maka kita harus dapat mengendalikan diri sendiri dalam
menyikapi adanya etnosentris. Bahaya etnosentrisme
lebih besar dalam bidang politik, moral, dan agama. Sehingga sikap etnosentris
tersebut perlu kita hindari walaupun sikap etnosentris juga kita perlukan pada
saat-saat tertentu.